Jumat, 11 Juli 2014

Maraknya Tawuran Dikalangan Remaja (Tugas Psikologi)

Remaja adalah tahap perkembangan manusia yang pada tahap inilah pencarian diri. Pada saat remaja mencari diri (kepribadian) dalam lingkungan sekitarnya lalu mereka menemukan lingkunagan  yang mampu menerima mereka, dan lingkunga tersebut lebih memberi persetujuan pada mereka sehingga mereka memiliki peran dalam lingkungan tersebut lalu mereka merasa menjadi satu dengan lingkungan tersebut lalu muncul perasaan stereotip, Tak jarang remaja masuk dalam lingkungan yang salah atau kurang baik sehingga remaja memilih komitmen pada hal yang salah juga. Misalnya komitmen untuk membela teman (yang ada dalam lingkungan) suatu ketika teman dari lingkungan tersebut membuat kesalahan yang menyebabkan pertengkaran (tawuran) antara lingkungannya dengan lingkungan lain dengan mengesampingkan aspek-aspek kebenaran mereka membela teman yang salah ditambah dengan sikap stereotif mereka sehingga di antara kedua lingkungan timbul rasa dendam sehingga pertengkaran mereka tidak berujung.
Menurut George Herbert Mead dalam buku Mind,Self, and society (1972) Manusia lahir belum memiliki diri (self), dan diri manusia berkembang tahap demi tahap melalui interaksi. Menurut Erik Erikson berkembangnya manusia dari satu tahap ke tahap berikutnya bergantung pada keberhasilan dalam tahap sebelumnya karena disetiap tahap memiliki tugas perkembangan sendiri yang bersifat psikososial. Pada tahap pertama dalam perkembangan yang dikemukakan erik Erikson  adalah masa bayi, pada masa ini psikososialnya adalah harapan dan kepercayaan ketika tujuan tahap ini tidak berhasil maka bayi tersebut akan didominasi dengan rasa takut. Lalu pada tahap selanjutnya (2-3 tahun) yaitu keinginan dan kehendak jika tahap ini tidak berhasil pula, selain anak tersebut didominasi rasa takut anak tersebut juga akan menjadi kurang mandiri. Pada tahap tiga (3-6 tahun) seorang anak belajar menemukan keseimbangan antara kemampuan dalam dirinya dengan harapan dan tujuannya. Pada tahap ini konflik yang terjadi inisiatif atau terbentuknya perasaan bersalah, seandainya pada tahap ini tidak berhasil maka anak tersebu akan menjadi kurang memiliki inisiatif. Tahap empat (6-12 tahun) pada tahap ini seorang telah membandingkan kemampuan yang mereka miliki dengan kemampuan orang lain sehingga kekuatan yang harus ada dalam tahap ini adalah kompetensi karena dengan demikian akan terjdi pengingkatan dalam kerampilan yang dimiliki jika dalam tahap ini tidak berhasil maka kemungkinan seseorang tersebut akan kurang percaya diri karena keterampilannya yang kurang. Lalu selanjunya tahap lima (12-20 tahun) tahap ini sudah memasuki tahap remaja dan disilah seseorang sudah harus memiliki komitmen yang kuat sehingga membentuk kepribadian yang kuat pula, namun bisa di simpulkan bagaimana yang akan terjadi jika perkembangan sebelumnya tidak berkembang secara bersahil (baik) maka sesorang tersebut akan didominasi rasa takut, kurang mandiri, kurang inisiaif, kurang percaya diri lalu lambat laun seseorang tersebut menjadi minder atau mungkin menjadi tidak nyaman sehingga seseorang tersebut mencari lingkungan lain yang mereka anggap nyaman dan mereka dapat diterima di lingkungan tersebut.

RUMAH JINGGA



Kau bukanlah  bangunan mewah yang megah seperti yang ada disekelilingmu
Dinding dan atapmu tidaklah terbuat dari batangan emas
Tiang penyanggahmu tidaklah terbuat dari besi baja
Jendelamu tidaklah berlapis berlian
Alasmu tidaklah terbuat dari batu marmer
Kau hanyalah bangunan sederhana
terbuat dari tumpukan batu dan kayu
Serta beberapa helai pelepah daun sagu
Yang hanya memiliki dua ruangan
Hanya saja pintumu tak pernah kau tutup
Kau ijikan siapa saja untuk singgah walau hanya untuk sesaat
Bahkan yang hanya mencibirmu karena kesederhanaanmu
Ditengah-tengah kehidupan megah yang ada disekelilingmu
Aku teringat saat pertama aku memasuki pintu rumahmu
Mengherankan bagiku karena tak ketemukan perapian didalamu
Namun aku merasakan hangat yang tak kumengerti berasal darimana
Tak ada satu pun benda yang membuatku tertarik untuk kembali padamu
Namun setiapkali aku pergi meninggalkanmu
kakiku selalu menuntunku kembali padamu